January 12, 2021
pertamina mengalami kerugian 11 triliun

Faktor Penyebab Pertamina Mengalami Kerugian

kknews.org – Pandemi Covid 19 telah banyak menginfeksi beberapa kalangan dan lapisan yang ada di masyarakat. Dampaknya pun tidak hanya pada meningkatnya kasus yang terpapar, tetapi beberapa sektor ekonomi pun mengalami dampaknya. Untuk itu, ada beberapa perusahaan skala besar terkena imbas dan mengalami kerugian. 

Salah satunya adalah perusahaan milik negara (BUMN) PT Pertamina Persero yang mengalami kerugian senial 11 triliun rupiah. Tentunya, keadaan ini sempat menjadi perbincangan di masyarakat. Melalui artikel ini, kami mencoba untuk mengajak Anda untuk melihat dan memperhatikan beberapa hal yang menyebabkan Pertamina mengalami kerugian. 

Faktor Penyebab Pertamina Mengalami Kerugian

Berikut ini, kami akan menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan Pertamina mengalami kerugian senilai 11 triliun rupiah. Dengan begitu, masyarakat dapat menemukan dan mendapatkan informasinya secara detail dan lengkap. Diantaranya, sebagai berikut :

Turunnya Konsumsi BBM Dalam Negeri

Selama Pandemi Covid 19 beberapa wilayah atau daerah di seluruh Indonesia melakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan bahkan DKI Jakarta kembali melakukan PSBB jilid 2. Untuk mengantisipasi tingkat penyebaran dan banyaknya jumlah kasus yang terkena, membuat provinsi DKI Jakarta diharuskan untuk menutup dan melakukan pengawasan secara ketat. 

pertamina mengalami kerugian 11 triliun

Adanya PSBB ini membuat beberapa sektor memang terkena imbasnya secara langsung dan menutup seluruh operasinya. PT Pertamina salah satu sektor strategis yang harus selalu buka dan tidak pengaruh oleh aturan PSBB. Sebagai 11 sektor unit usaha perusahaan BUMN ini dapat selalu buka untuk melayani dan memenuhi kebutuhan di masyarakat. 

Walaupun melakukan aktivitasnya seperti normal, tetapi karena ada pembatasan dan masyarakat dilarang untuk keluar rumah, maka kebutuhan BBM tidak banyak digunakan. Sehingga, konsumsi dalam negeri mengalami pengurangan yang begitu signifikan dan mengalami kerugian.Menurunnya pun sampai 13 persen dan beberapa daerah sampai 50 hingga 60 persen.

Baca Juga : Cara Berhutang Produktif dengan Pinjaman Online Tanpa Jaminan

Ada Beban Operasional

Pihak Pertamina Persero mengatakan bahwa ada kerugian yang besar dari biaya operasional yang ditemukan dari data yang ada. Pihaknya menyebutkan bahwa beban operasional perusahaan mencapai USD 960,98 juta yang sebelumnya hanya di USD 803, 7 juta. 

Hal inilah yang membuat BUMN ini mengalami kerugian dan menyebabkan kerugian, tidak hanya beban operasional yang besar, tetapi beban pokok penjualan dan beban langsung mengalami perbedaan yang besar juga dari USD 21,98 miliar hanya mendapatkan USD 18,87 miliar. 

Oleh karena itu, perusahaan minyak terbesar di Indonesia mengalami kerugian yang cukup besar selama kuartal 1 ini. Dengan begitu, pihaknya tetap yakin dan Pertamina bisa mendapatkan keuntungan. Meskipun mengalami kerugian yang besar ditengah pandemi sekarang ini, membuat Pertamina harus bangkit dan jangan mengalami kerugian yang besar lagi kedepannya. 

Penjualan Dalam Negeri 

Berdasarkan situs resminya, Pihak pertamina juga menyatakan bahwa terjadinya pengurangan laba atau pendapatan yang begitu besar. Hal ini diungkapkan oleh PT Pertamina bahwa pendapatannya hanya USD 20,48 miliar yang sebelumnya mencapai USD 25,55.

Penyebabnya adalah turunnya pembelian yang ada di dalam negeri, diantaranya untuk kebutuhan minyak mentah, gas bumi, energi panas bumi. Proses ini mulai mengalami penurunan yang besar juga, mencapai 20,91 persen atau USD 16,56 miliar.

Ada Selisih Kurs

Selain kendala teknis, kebijakan luar negeri pun mempengaruhi beberapa hal diantaranya nilai mata uang asing, dalam hal ini adalah mata uang dolar Amerika. Selisih kurs ini mencapai 3 kali lebih banyak dan totalnya mencapai USD 64,59 juta tahun 2019. 

Total keseluruhan yang mengalami kerugian itu mencapai USD 211,83 juta yang menyebabkan Pertamina mengalami kerugian yang besar dan dipengaruhi lainnya. Baik dari penurunan konsumsi, turunnya harga minyak mentah, dan nilai tukar atau kurs.

Beban Produksi Meningkat

Salah satu faktor yang menyebabkan Pertamina Persero mengalami kerugian adalah adanya beban produksi yang meningkat. Perbedaan ini turut menyumbang Pertamina mengalami kerugian yang sebelumnya hanya USD 2,38 miliar dan sekarang mencapai USD 2,43 miliar. 

Laba Kotor Turun Drastis

Apabila ada beban pokok dan beban lainnya mengalami penurunan, tetapi hal itu tidak membuat laba kotor mengalami peningkatan. Sebaliknya malah mendapatkan kerugian yang turun memberikan tambahan kerugian 11 triliun di Pertamina. Kerugian mencapai USD 1,60 miliar atau sekitar 55,05 persen.

Sebelumnya laba kotor seharusnya tidak berpengaruh, tetapi sekarang malah memberikan sumbangan yang membuat PT Pertamina sebagai perusahaan minyak nasional mengalami kerugian yang besar di tahun 2020 ini. 

Nah, itulah beberapa penyebab PT Pertamina Persero mengalami kerugian 11 triliun dan beberapa faktor yang turut andil menyebabkan kerugian pada BUMN tersebut. Dampak Covid 19 ini benar-benar membuat berbagai sektor mengalami kerugian. Walaupun begitu, Pertamina harus yakin dan optimis untuk bisa bangkit dan mendapatkan keuntungan di semester 2 nantinya. Semoga pandemi Covid 19 cepat selesai dan Indonesia cepat bangkit dari dampak yang terjadi sampai sekarang.