Kereta Cepat Jalur Jakarta-Bandung Jadi Kereta Cepat Di ASEAN

Kereta Cepat Jalur Jakarta-Bandung Jadi Kereta Cepat Di ASEAN

Pembangunan kereta cepat jalur Jakarta-Bandung waktu lalu memang dikabarkan mengalami banyak masalah. Tertunda selama kurang lebih tiga tahun sebab masalah dari kepemilikan tanah, konstruksi jalur Jakarta-Bandung disepanjang 142 kilometer pada akhirnya dimulai pada 2018. Kini pembangunan  telah mencapai sekitar 8%. Progresnya meliputi pengerjaan subgrade atau konstruksi di permukaan tanah, tunnel atau terowongan, elevated atau konstruksi layang, temporary access road atau akses jalan sementara, pekerjaan bawah tanah galian dan tempat pabrikasi beton. Meski dikatakan cukup lambat, progress ini dilakukan bertahap untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Dari penuturan PT KCIC (Kereta Cepat Indonesia China), pada akhir 2019 progres ditargetkan mencapai 60% dengan bantuan Tunnel Boring Machine (TBM), yaitu alat bor yang didatangkan khusus dari China. Sedangkan target selesai kereta cepat jalur Jakarta-Bandung diperkirakan pada tahun 2021 dan diprediksi menjadi kereta cepat pertama di ASEAN mengalahkan kereta cepat milik Jepang dan Malaysia.

Kereta Cepat China

Proyek ini sendiri dipegang oleh China yang menjadi tuan rumah pada KTT kedua pada negara-negara bagian Inisiatif Sabuk serta Jalan. China akan memamerkan proyek kereta cepat jalur Jakarta-Bandung ini bersamaan dengan keberhasilannya meraih kembali proyek Kereta Api Jalur Pantai Timur Malaysia sesudah negosiasi berbulan-bulan.

Proyek Sabuk serta Jalan yang dimaksud adalah suatu kebijakan utama dari Presiden China Xi Jinping, yang sempat menjadi kontroversi di ibu kota Barat salah satunya Washington, di mana ada beberapa anggapan bahwa China ini menggunakan proyek tersebut sebagai sarana dalam menyebarkan pengaruh China pada luar negeri serta membebani negara-negara yang memiliki utang dengan tidak berkelanjutan melalui dari proyek-proyek tidak transparan.

Dari pemameran kedua proyek China yang akan dilakukan pihak China itulah yang nantinya akan menjadi jawaban atas kritik tentang tingginya utang dan kurangnya transparansi di proyek Sabuk dan Jalan. Sebaliknya pihak China akan mengupayakan dan memfokuskan kembali program itu pada pembiayaan berkelanjutan, pertumbuhan ekonomi hijau, dan kualitas tinggi.

Baca juga : Indonesia Kaya, Mengapa Banyak Hutang?

Pemegangan kendali dari China ini berawal dari tahun 2015 di mana China berhasil memenangkan proyek kereta cepat jalur Jakarta-Bandung mengalahkan Jepang. Dalam persaingan ketat menunjukkan keahlian dengan kereta api yang berkecepatan tinggin pada pelanggan internasional, China berhasil menunjukkan kereta cepatnya yang lebih baik ketimbang Jepang. Bahkan Menteri BUMN bernegosiasi kepada pihak China dengan meminta tarif dengan serendah mungkin kemudian hasilnya, mereka akan memberi 2 persen.

Dalam proyek pembangunan kereta cepat jalur Jakarta-Bandung yang bertindak sebagai kontraktor dari pembangunan proyek yaitu Konsorsium dari PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Dari konsorsium tersebut terdiri dari empat penyongsong yaitu Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yakni PT KAI (Persero), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII, dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dengan China Railways.

 

shares