May 8, 2021
vaksin covid

Vaksin Covid-19 yang Sudah Digunakan di Indonesia

Pemerintah pusat sudah merealisasikan program vaksinasi nasional atau vaksin Covid-19 sejak tanggal 13 bulan Januari 2021 kemarin, Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama yang disuntik vaksin. Pemerintah pusat menargetkan untuk bisa memberi vaksin ke 181 juta warga yang memiliki usia diatas 18 tahun, vaksinasi ini akan berlangsung sampai maret 2022.

Menjadi program dengan tujuan pembentukan kekebalan tubuh terhadap paparan virus corona ini, setidaknya membutuhkan vaksin 425 juta dosis. Di tahap awal, program vaksinasi memakai vaksin corona dari Sinovac Life Science, merupakan perusahaan farmasi dari Cina. Vaksin tersebut sudah memperoleh izin penggunaannya dari BPOM.

Terdapat beberapa jenis vaksin corona yang digunakan di Indonesia yakni Vaksin AstraZeneca, Vaksin Sinovac, Vaksin Novavax, Vaksin Moderna, Vaksin Sinopharm, Vaksin Pfizer. Agar mengetahui lebih dalam tentang vaksin-vaksin tersebut, dibawah ini penjelasannya.

1. Vaksin Sinovac

Vaksin satu ini memiliki nama CoronaVac yang diproduksi oleh perusahaan Sinovac Life Science, merupakan perusahaan bidang farmasi yang berada di Kota Beijing, Cina. Vaksin tersebut memiliki harga 200 ribu untuk satu dosis, seperti keterangan yang disampaikan oleh Direktur Utama Bio Farma di pertengahan bulan Oktober 2020 kemarin.

Surat persetujuan dari EUA atau izin untuk penggunaan di kondisi sedang darurat yang diterbitkan oleh BPOM, menyatakan bahwa vaksin Sinovac dapat digunakan untuk orang yang berusia mulai dari 18 tahun sampai 59 tahun.

Selain negara Indonesia, beberapa negara lain telah memesan vaksin tersebut, seperti Singapura, Ukraina, Filipina, Brazil, Chile, Turki dan Thailand.

2. Vaksin Pfizer

Vaksin berikutnya biasa dikenal dengan Comirnaty atau disebut juga BNT162b2 dan Tozinameran. Vaksin satu ini merupakan kerjasama antara BioNTech dan Pfizer. Vaksin Pfizer sendiri adalah salah satu vaksin Covid-19 yang pertama mendapatkan validasi dari WHO agar bisa masuk ke daftar penggunaan program vaksin darurat.

Ketika peresmiannya di bulan Desember akhir 2020 kemarin, pihak WHO memberitahukan keputusan tersebut didasari dengan hasil riset para pakar yang untuk dapat mengkaji soal kemanjuran dan juga keamanan hingga kualitas dari vaksin BioNTech/Pfizer ini.

Vaksin tersebut diciptakan dengan menggunakan Platform mRNA atau messenger RNA, sebuah materi genetik dibaca oleh sel tubuh seseorang agar menciptakan protein. Kinerja vaksin ini berisikan intruksi genetic agar dapat membangun zat protein virus corona, biasa disebut sebagai spike. Setelah di injek ke dalam tubuh, vaksin tersebut dapat menyebabkan semua sel pembuat protein yang ada di dalam tubuh seseorang nantinya akan membuat respons berupa sistem kekebalan tubuh.

3. Vaksin AstraZeneca

vaksin covid-19

Berikutnya vaksin dengan nama AZD1222 biasa dikenal dengan Covishield di negara India, vaksin ini merupakan hasil dari kerjasama antara Universitas Oxford dengan perusahaan AstraZeneca Inggris-Swedia. Vaksin tersebut memiliki tingkat efikasi mulai dari 62 sampai 90 persen.

Vaksin ini diciptakan dari hasil modifikasi virus flu seekor simpanse agar mengirim instruksi menuju sel untuk melawan penyakit yang disebabkan oleh Covid-19. Menggunakan metode tradisional tentu vaksin ini berbeda dari kinerja vaksin Moderna dan Pfizer dengan mengandalkan kecanggihan teknologi.

BPOM dari negara Inggris sudah mengeluarkan perizinan untuk penggunaan vaksin darurat atau EUA. Di akhir 2020 kemarin AstraZeneca sudah ada beberapa negara yang menggunakan dosis vaksin tersebut untuk menjalankan program vaksinasi mereka mulai dari negara Meksiko, India, Argentina, serta sudah menerbitkan UEA untuk keperluan vaksin AstraZeneca.

4. Vaksin Moderna

Selanjutnya vaksin yang memiliki nama mRNA-1273 yang dikembangkan dari perusahaan bioteknologi dari Boston, Amerika Serikat yaitu Moderna. Jenis vaksin tersebut dikebangkan lewat metode mRNA, mirip dengan vaksin Pfizer. Pengujian vaksin Moderna tahap ketiga sudah dilakukan dari bulan Juli tahun 2020 yang melibatkan sekitar 30 ribu orang.

Memiliki persentase efikasi hingga 95 persen, vaksin tersebut sudah memperoleh izin penggunaan obat darurat dari BPOM Amerika Serikat di tinggal 18 bulan Desember 2020 lalu. Diawa januari 2021, vaksin Moderna sudah mengirimkan 18 juta dosis untuk kebutuhan Amerika Serikat. Vaksin ini juga sudah disosialisasikan untuk Uni Eropa, Swis, Israel serta Inggris.

5. Vaksin Sinopharm

Institusi biologi Beijing turut mengembangkan vaksin dari sebuah virus yang berhasil dilemahkan. Vaksin tersebut akhirnya dilakukan uji klinis dari perusahaan negara di negara China, yakni Sinopharm. Tangga 30 bulan Desember 2020 kemarin, pihak Sinopharm telah menyatakan hasil dari uji klinis bahwa jenis vaksin yang memiliki nama BBBIBP-CorV ini mempunyai tingkat efikasi 79 persen. Pernyataan ini turut diikuti oleh keputusan dari Pemerintah Tiongkok untuk memberi izin penggunaan darurat vaksin Sinopharm.

6. Vaksin Novavax

Terakhir ada vaksin Novavax. Pihak perusahaan bioteknologi yang berbasis di kota Maryland Amerika Serikat ini sampai sekarang belum meluncurkan data mengenai tingkat efikasi dari vaksin tersebut. Setelah memperoleh hasil dari studi pendahuluan untuk monyet serta manusia, vaksin Novavax akan melakukan fase uji coba tahap kedua dengan 2.9000 orang di Afrika Selatan. Namun untuk penerapan di Indonesia sendiri masih rencana karena vaksin tersebut belum terlalu valid untuk digunakan.