May 8, 2021
uighur

Memahami Konflik Muslim Uighur Di China

udah menyebar hingga ke berbagai negara dan menarik perhatian banyak kalangan. Kekerasan yang dialami oleh etnis Uighur di China tidak hanya terjadi pada beberapa tahun terakhir namun sudah terjadi sejak lama bahkan sudah terjadi sejak China masih berupa kekaisaran.

Kabar konflik etnis Uighur ini semakin menarik banyak perhatian khususnya masyarakat muslim di seluruh belahan dunia. Hal tersebut diakibatkan tindakan represif yang dilakukan oleh pemerintah China dengan menangkap lebih dari 1 juta masyarakat muslim Uighur dan menempatkan mereka ke dalam kamp pengungsian yang dinilai lebih mirip seperti penjara.

Dalam kasus kekerasan yang terjadi di Uighur sana, pemerintah China mengklaim bahwa tindakan represif yang dilakukan tersebut bertujuan untuk mencegah tindakan radikalisme dan terorisme berdasarkan agama. Tujuan lain dalam penahan warga Uighur dalam kamp pengungsian tersebut yaitu untuk  pelatihan kejuruan kepada etnis Uighur.

Berbicara mengenai konflik Uighur yang ramai diberitakan oleh banyak media berita kita tentu saja tidak bisa hanya melihat dari satu sisi saja dan hanya berpatokan apa yang baru saja terjadi. Untuk memahami bagaimana konflik etnis Uighur ini bisa terjadi kita perlu untuk menoleh ke belakang dan melihat sejarah Uighur dan hubungannya dengan pemerintahan China.

Asal Mula Etnis Uighur Di China

Jika kita melihat sejarah keberadaan etnis Uighur ini sudah ada sejak abad 8 Masehi dimana sekelompok orang yang disebut Uighur ini mendirikan kerajaan mereka dimana tempat tersebut sekarang dikenal dengan Mongolia. Setelah itu mereka mulai pindah ke tempat yang saat ini kita kenal dengan wilayah barat laut China untuk bergabung dengan masyarakat yang sudah tinggal disitu terlebih dahulu yang sebagian besar dari bangsa Turki dan Persia.

Pada tahun 1884 China yang saat itu dibawah kepemimpinan Beijing menetapkan wilayah tersebut sebagai provinsi yang kita kenal dengan Xinjiang. Wilayah tersebut lebih didominasi oleh etnis Uighur atau kaum muslim yang berbahasa Turki. 

Kepindahan Etnis Dan Kebencian Yang Mulai Meningkat

uighur

Di tahun 1933 dan 1944 saat terjadinya perang saudara di China, pemimpin kelompok Uighur mendirikan republic independen yang dinamai Turkestan Timur. Dan di tahun 1950 an pemerintah China membangun daerah otonom Xinjiang dimana etnis Han atau kelompok etnis dengan mayoritas negara China diminta untuk pindah kesana.

Seiring dengan berjalannya waktu populasi etnis Han China semakin tumbuh dan mampu menyaingi kelompok etnis Uighur yang merupakan salah satu kelompok etnis terbesar yang ada di wilayah Xinjiang. Dan pada tahun 1990 an etnis Uighur mulai memprotes tindakan tidak adil dan kekerasan yang dilakukan oleh otoriter pemerintah China. 

China pun merespon tindakan yang dilakukan oleh kelompok Uighur tersebut dengan melakukan aksi polisionil yang cukup keras sehingga banyak demonstran etnis Uighur meninggal dan ribuan lainnya di tahan.  Hal ini merupakan tindakan penumpasan yang paling menakutkan yang pernah terjadi di China dalam kampanye yang dikenal dengan kampanye strike hard.

Perang Melawan Terorisme Dan Kekerasan Yang Meningkat

Kejadian serangan yang dianggap sebagai tidakan terorisme yang terjadi di Amerika Serikat pada bulan September tahun 2011 silam membuat pemerintah China semakin membenarkan tindakannya atas kelompok etnis Uighur guna atas dasar perlawanan atas tindakan terorisme. Konflik dengan pemerintahan China dan kebencian terhadap etnis China Han pun semakin meningkat.

Sekitar tahun 2009 kebencian tersebut mengakibatkan terjadi perpecahan dan tindakan kekerasan yang menewaskan kurang lebih 200 orang dan hampir 2000 orang mengalami luka dan cedera. Pihak China pun menindak banyak dari kelompok etnis Uighur yang dianggap membangkang dan pelaku separatisme.

Kamp Pengungsian Kelompok Etnis Uighur DI Xinjiang

Untuk menekan tindakan radikal dan terorisme, pemerintah China membangun kamp pengungsian bagi warga dari etnis Uighur. Meskipun banyak pihak menilai kamp tersebut seperti penjara namun pemerintah China tetap bersikukuh mengatakan bahwa kamp tersebut dibangun untuk pelatihan yang manusiawi.

Pemerintah China juga memperketat pengawasan dengan menambahkan jumlah polisi, membagun pos penjaga dengan kamera cctv yang terpasang dimana mana di daerah Xinjiang. Pemerintah Xinjiang bahkan melarang untuk menumbuhkan jenggot dan juga memakai kerudung. Hingga pada tahun 2018 PBB menyerukan agar jutaan kelompok etnis Uighur yang ditahan di kamp pengungsian agar dibebaskan.

Namun China masih membela kamp tersebut dan menyatakan bahwa penekanan terhadap tindakan radikalisme dan terorisme berhasil dan terbukti tidak adanya kasus terorisme yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Kasus kekerasan terhadap etnis Uighur ini pun masih berlanjut hingga kini dan berbuntut Panjang. Bahkan AS memberlakukan pembatasan visa bagi pejabat China Yang terlibat konflik tersebut.